Tak terasa waktu untuk menuju dunia
rantau telah tiba. Ya, inilah awal dari sebuah perjuangan. Waktu yang
ditunggu-tunggu setelah sekian lama melakukan persiapan. Waktu yang menurutnya
jika salah melangkah, maka salahlah semuanya. Namun, kini itu harus dihadapi,
diri ini harus siap akan segala hadangan. Sebuah rasa yakin yang sangat
mendalam terukir dalam tubuh, ehm.. dengan ucapan bismillah, MARI MENUJU TANAH RANTAU.
***Hari penuh haru, Selamat tinggal Aktivitas, Good Bye Mamuju…
Diriku memang terkenal di kalangan
teman-temanku jika selalu aktif di berbagai kegiatan. Sebulan sebelum hari-H
pun saya sempat terlibat di beberapa acara penggalangan dana, solidaritas untuk
rakyat Palestina, dan di hari H-1 sebelum berangkat menuju Bandar Udara masih juga
masih menyempatkan diri tuk mengurusi sebuah kegiatan tingkat SLTA se-Sulawesi
Barat.
Sekilas tak ada yang special dari
pembuka di atas. Namun sebenarnya itu adalah momen penuh haru dan gelisah. “siap
tidak?” , “mau berangkat tidak?” , semua pertanyaan yang sejenis selalu saja menjadi
hantu di benakku. Ditambah lagi dengan beban pikiran “kalau nanti ….”, “ apa
saya bisa??”, “jangan sampai nanti malah…. “. Semuanya bercampur aduk, dan
terus begentayangan. Tetapi keputusanku sudah bulat, inilah saat yang tepat
untuk berangkat menuju sukses.
Hari itu 19 Agustus 2014, sehari
jelang keberangkatan menuju negeri orang. Saatnya untuk mengemas pakaian yang
telah dipersiapkan pada malam sebelumnya ke dalam koper. Saat mengemas barang
terbayang dalam benak ini akan suksesnya orang-orang di tanah rantau mereka.
Apa saya bisa seperti mereka? “Tentu”, jawabku.
Kebetulan saat itu ada kegiatan
Pelatihan Jurnalistik Pelajar SMA se-Sulawesi Barat, yang diadakan oleh Dinas
Pendidikan Propinsi Sulawesi Barat. Peranku di sini sebenarnya tak ada, hanya
saja kebetulan pelaksana kegiatan tersebut ialah “guru” saya. Sebut saja
namanya pak Mus, saya ketemu dengannya saat Pelatihan Jurnalistik juga, tapi
pada tahun 2013. Banyak yang saya pelajari dari beliau, termasuk di antaranya
keaktifan dalam berbicara. Siapa sangka, Farid yang dulu pemalu untuk tampil
berbicara di depan orang banyak saat ini mampu untuk tampil? Bahkan terkadang
sampai Overconfidence[1] .
Sebenarnya setau saya kegiatan
Pelatihan Jurnalis tersebut akan diadakan pada tanggal 25 Agustus. Untuk
memastikannya, maka saya menghubungi beliau beberapa minggu sebelum acara di
mulai.
“maaf pak, kegiatan diadakan tanggal berapa?” tanyaku
“tanggal 25, tanggal berapa kamu berangkat?” pak Mus bertanya lagi.
“tanggal 20 pak, jadi tanggal 19 sudah tinggalkan Mamuju” jawabku.
“oke, kalau begitu kegiatan kita majukan di tanggal 18 saja” katanya.
Saya pikir beliau hanya bercanda saat itu. Tapi tidak, ternyata ia
serius. Ia lantas mengambil telfon genggamnya dan langsung menghubungi
bendahara kantor untuk segera mengadakan kegiatan tersebut.
“ambil laptop, print undangan peserta”
Wah.. nampaknya pak Mus benar-benar serius untuk memajukan kegiatan
tersebut. Katanya kegiatan sengaja ia majukan agar saya bisa bertemu dengan siswa-siswi
SMA se-Sulawesi Barat, agar saya bisa melihat anak-anak berprestasi itu, dan
saya benar-benar terharu mendengar kalimat itu. Ketika kegiatan jurnalis
berlangsung, dan yes.. benar, mereka benar-benar hebat. Saya bisa banyak
belajar dari mereka.
Beberapa bulan yang lalu saya pernah berjanji pada seorang pelajar, jika
nantinya saya akan memberikan sebuah buku untuknya. Kebetulan juga orangnya
hadir pada saat pelatihan, ya sudahlah, sambil nyelam minum air, sambil menyusun
kegiatan, janjipun ditepati. Buku itu ialah buku yang penuh motivasi, buku yang
turut merubah hidupku untuk lebih bersyukur lagi. Dalam buku itu terdapat
banyak coretan tanganku. Salah satunya ialah coretan “Pergi tuk kembali” .
Beruntunglah kau yang mendapat buku inspiratif itu.
Ada satu hal yang lucu saat saya di hotel tempat kegiatan. Untuk terkair
kainya saya dikerjain sama seorang adik kelas. Sebut saja namanya Nabilah
Haruna, pelajar dari SMA Negeri 2 Majene. Saat itu saya sedang berdiri di depan
kamarnya.
“kak..kak…janganki di situ, ke kiriki sedikit, eh… salah kanan, kanan,
kanan. Eh tidak, berdiriki disitu”
Secara spontan saya juga mengikuti perintahnya itu, dan kalimat
terakhirnya ialah…
“wih… hebatka..bisaka perintah orang pintar…bisa ii ku perintah kak
Farid..”
Hm.. betapa bodohnya saya saat itu sampai bisa diperintah-perintah
demikian. Tetapi tak apalah itu menjadi sebuah kenangan tersendiri. Kenangan
menjengkelkan dan lucu.
**
Tak terasa malampun tiba, saya harus kembali ke rumah untuk siap-siap
berangkat. Ternyata rumah telah ramai, om dan tante juga datang. Singkat cerita
sayapun ikut diantar mereka ke terminal bus. Namun, saat itu di antara keluarga
ada yang kurang, saat itu bapak saya sedang dinas ke luar kota. Jadi saya tak
sempat berjabat tangan dengan beliau. Tetapi kehadiran beliau sudah cukup
terwakili oleh mama saya. Sangat berat rasanya meninggalkan orang-orang
tersayang, apalagi orang tua sendiri. Namun, apa daya, inilah salah satu cara
untuk membahagiakan mereka.
>>>
No comments:
Post a Comment