Pages

Tuesday, 26 August 2014

1001 Kisah di Tanah Rantau

Tak terasa waktu untuk menuju dunia rantau telah tiba. Ya, inilah awal dari sebuah perjuangan. Waktu yang ditunggu-tunggu setelah sekian lama melakukan persiapan. Waktu yang menurutnya jika salah melangkah, maka salahlah semuanya. Namun, kini itu harus dihadapi, diri ini harus siap akan segala hadangan. Sebuah rasa yakin yang sangat mendalam terukir dalam tubuh, ehm.. dengan ucapan bismillah, MARI MENUJU TANAH RANTAU.

***Hari penuh haru, Selamat tinggal Aktivitas, Good Bye Mamuju…

Diriku memang terkenal di kalangan teman-temanku jika selalu aktif di berbagai kegiatan. Sebulan sebelum hari-H pun saya sempat terlibat di beberapa acara penggalangan dana, solidaritas untuk rakyat Palestina, dan di hari H-1 sebelum berangkat menuju Bandar Udara masih juga masih menyempatkan diri tuk mengurusi sebuah kegiatan tingkat SLTA se-Sulawesi Barat.
Sekilas tak ada yang special dari pembuka di atas. Namun sebenarnya itu adalah momen penuh haru dan gelisah. “siap tidak?” , “mau berangkat tidak?” , semua pertanyaan yang sejenis selalu saja menjadi hantu di benakku. Ditambah lagi dengan beban pikiran “kalau nanti ….”, “ apa saya bisa??”, “jangan sampai nanti malah…. “. Semuanya bercampur aduk, dan terus begentayangan. Tetapi keputusanku sudah bulat, inilah saat yang tepat untuk berangkat menuju sukses.

Hari itu 19 Agustus 2014, sehari jelang keberangkatan menuju negeri orang. Saatnya untuk mengemas pakaian yang telah dipersiapkan pada malam sebelumnya ke dalam koper. Saat mengemas barang terbayang dalam benak ini akan suksesnya orang-orang di tanah rantau mereka. Apa saya bisa seperti mereka? “Tentu”, jawabku.
Kebetulan saat itu ada kegiatan Pelatihan Jurnalistik Pelajar SMA se-Sulawesi Barat, yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Propinsi Sulawesi Barat. Peranku di sini sebenarnya tak ada, hanya saja kebetulan pelaksana kegiatan tersebut ialah “guru” saya. Sebut saja namanya pak Mus, saya ketemu dengannya saat Pelatihan Jurnalistik juga, tapi pada tahun 2013. Banyak yang saya pelajari dari beliau, termasuk di antaranya keaktifan dalam berbicara. Siapa sangka, Farid yang dulu pemalu untuk tampil berbicara di depan orang banyak saat ini mampu untuk tampil? Bahkan terkadang sampai Overconfidence[1] .


[1] Over Confidence : Terlalu Percaya Diri


Sebenarnya setau saya kegiatan Pelatihan Jurnalis tersebut akan diadakan pada tanggal 25 Agustus. Untuk memastikannya, maka saya menghubungi beliau beberapa minggu sebelum acara di mulai.
“maaf pak, kegiatan diadakan tanggal berapa?” tanyaku
“tanggal 25, tanggal berapa kamu berangkat?” pak Mus bertanya lagi.
“tanggal 20 pak, jadi tanggal 19 sudah tinggalkan Mamuju” jawabku.
“oke, kalau begitu kegiatan kita majukan di tanggal 18 saja” katanya.

Saya pikir beliau hanya bercanda saat itu. Tapi tidak, ternyata ia serius. Ia lantas mengambil telfon genggamnya dan langsung menghubungi bendahara kantor untuk segera mengadakan kegiatan tersebut.
“ambil laptop, print undangan peserta”
Wah.. nampaknya pak Mus benar-benar serius untuk memajukan kegiatan tersebut. Katanya kegiatan sengaja ia majukan agar saya bisa bertemu dengan siswa-siswi SMA se-Sulawesi Barat, agar saya bisa melihat anak-anak berprestasi itu, dan saya benar-benar terharu mendengar kalimat itu. Ketika kegiatan jurnalis berlangsung, dan yes.. benar, mereka benar-benar hebat. Saya bisa banyak belajar dari mereka.

Beberapa bulan yang lalu saya pernah berjanji pada seorang pelajar, jika nantinya saya akan memberikan sebuah buku untuknya. Kebetulan juga orangnya hadir pada saat pelatihan, ya sudahlah, sambil nyelam minum air, sambil menyusun kegiatan, janjipun ditepati. Buku itu ialah buku yang penuh motivasi, buku yang turut merubah hidupku untuk lebih bersyukur lagi. Dalam buku itu terdapat banyak coretan tanganku. Salah satunya ialah coretan “Pergi tuk kembali” . Beruntunglah kau yang mendapat buku inspiratif itu.

Ada satu hal yang lucu saat saya di hotel tempat kegiatan. Untuk terkair kainya saya dikerjain sama seorang adik kelas. Sebut saja namanya Nabilah Haruna, pelajar dari SMA Negeri 2 Majene. Saat itu saya sedang berdiri di depan kamarnya.

“kak..kak…janganki di situ, ke kiriki sedikit, eh… salah kanan, kanan, kanan. Eh tidak, berdiriki disitu”

Secara spontan saya juga mengikuti perintahnya itu, dan kalimat terakhirnya ialah…

“wih… hebatka..bisaka perintah orang pintar…bisa ii ku perintah kak Farid..”

Hm.. betapa bodohnya saya saat itu sampai bisa diperintah-perintah demikian. Tetapi tak apalah itu menjadi sebuah kenangan tersendiri. Kenangan menjengkelkan dan lucu.

**
Tak terasa malampun tiba, saya harus kembali ke rumah untuk siap-siap berangkat. Ternyata rumah telah ramai, om dan tante juga datang. Singkat cerita sayapun ikut diantar mereka ke terminal bus. Namun, saat itu di antara keluarga ada yang kurang, saat itu bapak saya sedang dinas ke luar kota. Jadi saya tak sempat berjabat tangan dengan beliau. Tetapi kehadiran beliau sudah cukup terwakili oleh mama saya. Sangat berat rasanya meninggalkan orang-orang tersayang, apalagi orang tua sendiri. Namun, apa daya, inilah salah satu cara untuk membahagiakan mereka.

>>>