Pages

Saturday, 5 November 2011

KEMALASAN ADALAH MALAPETAKA DIRIKU


Aku adalah seorang yang awalnya pemalas, suka membuang buang waktu, dan membodohi diri sendiri. Namun sekarang telah kusadari bahwa apa yang kulakukan semuanya tak ada gunanya, dan hanya menghabiskan waktuku saja.

Suatu ketika diriku disuruh untuk mengikuti English Meting yang dilaksanakan oleh salah satu  English Club terkenal di Asia. Orang tua,dan Guru-guru menyerukan agar diriku mengikuti kegiatan itu. Namun diriku menolak hal itu, dan memilih untuk mengikuti kegiatan lain yang sebenarnya hanya membuang waktuku saja, dan meremehkan hal itu.
"buat apa kamu mengikuti english club??!!, b. Indonesia saja kamu tidak bisa, apalagi mengikuti b. Inggris!!" seru teman temanku ketika aku ingin mengikuti kegiatan English Club,
"Mendingan Kamu ikut dengan kami, lebih enjoy!!" teriak salah satu kawanku,

Akupun mengikuti kegitan itu dan besenang senang dengan teman-teman sebayaku, tanpa memikirkan dampak negatif dari jika tak mengikuti kegiatan English Club.

Keesokan harinya aku bertanya kepada teman teman ku yang mengikuti kegiatan itu,
"Kemarin acaranya sangat bagus karena pematerinya langsung didatangkan dari Aussie" kata salah satu temanku
"Apa yang kamu dapatkan dari semua itu?" tanyaku penasaran,
"Banyak, selain mendapatkan ilmu kami juga mendapatkan majalah, baju, dan masih banyak lagi" jawab temanku dengan perasaan yang sangat gembira.
Mereka semua yang mengikuti acara English Club itu nampak gembira, bersenang senang dengan segala barang barang  yang mereka dapatkan dari Meeting itu.

Sepulangku dirumah, orang tuaku langsung menghampiri diriku,
"Andaikan kamu ikut kemarin, pasti kamu akan lebih banyak belajar lagi. tapi apa?? kamu lebih memilih hal yang samasekali tak ada gunanya itu..!!!" kata orangtuaku yang memarahi diriku,
"iy.. iy.. aku tahu hal itu" jawabku dengan penuh kesedihan,
"bodoh sekali kamu!!!" gertakan orang tuaku kepadaku.

Diriku yang awalnya ceria, seketika nampak seperti tanaman yang tak pernah disiram.
Semua itu  kini telah usai, tinggal penyesalan  yang tersisa didalam diriku.
Akupun menyadari bahwa "KEMALASAN ADALAH MALAPETAKA BAGI DIRIKU"

SUMPAH PEMUDA???



SOEMPAH PEMOEDA
Pertama :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE,
TANAH AIR INDONESIA

Kedua :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE,
BANGSA INDONESIA

Ketiga :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN,
BAHASA INDONESIA
Djakarta, 28 Oktober 1928

Sumpah Pemuda, adalah hal yang tiap tahun diperingati oleh para pemuda-pemudi bangsa ini. Namun sumpah pemuda itu seakan hanya di ingat pada saat 28 Oktober saja. Apa gunanya diperingati tanpa diterapkan dikehidupan sehari hari?

Di era globalisasi ini hal itu sering kali disepelehkan. Mengaku bertanah air satu, tetapi tetap saja menghianati negara sendiri. Mengaku Berbangsa Satu tetapi tetap saja, tawuran antar pemuda terjadi dimana-mana. Megaku menjunjung Bahasa persatuan, tetapi kenyataanya dalam kehidupan sehari hari tidak seperti apa yang diucapkannya.

Jadi, jangan heran jika melihat orang asing lebih dominan menjajakan budaya Indonesia, itu karena mereka lebih tertarik dengan budaya Indonesia.

Budayakan budaya Bangsamu, maka Mereka akan mengakui itu asli dari daerahmu..
kalau tak dibudayakan?? jangan marah jika ada yang mengklaim budayamu sebagai budaya mereka.

Thursday, 3 November 2011

HABIBAH

Oleh : Mira Pasolong


Saat kecil, Habibah bercita- cita untuk menjadi seorang dokter. Di setiap aktifitas bermainnya dia selalu berperan sebagai seorang dokter. Umur enam tahun saat Habibah baru saja masuk sekolah dasar, ujian datang. Ayahnya yang merupakan tulang punggung keluarga dipanggil menghadap Sang Khalik dengan hanya meninggalkan warisan berupa buku- buku. Baginya menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim.danbuku adalah ladang ilmu yang sangat baik. Hal ini juga senantiasa diajarkan kepada anak- anaknya. Bahkan kepada si kecil Bibah pun, begitu Habibah biasa dipanggil.

Sebulan sebelum meninggal ayahnya memesankan dua hal kepada 3 putrinya.
'"Kita tidak pernah tahu kapan malaikat maut akaan datang menjemput kita. Karena itu kepada kalian bertiga dan juga ibumu aku berpesan hendaknya janganlah kamu silau oleh kemilau duniawi. Janganlah pula kamu bercita- cita mewariskan materi sebanyak- banyaknya kepada keturunan nanti. Tapi wariskanlah hanya dua hal; ketakwaan kepada Allah Swt yang diamplikasikan dengan senantiasa berbuat hanya untuk Allah SWT dan yang kedua adalah kegemaran menuntut Ilmu. Apabila kita mewariskan materi maka suatu hari nanti dia akan rusak, atau hilang diambil orang,tetapi ilmu dan amal insya Allah akan tetap abadi."

Saat ayahnya menyampaikan petuah itu Habibah hanya membelalakkan mata belum sepenuhnya mengerti apa yang dibicarakan oleh Ayahnya, namun seiring berjalannya waktu dan berkat penjelasan Ibu dan Kakak- kakaknya akhirnya diapun paham dan jadilah Bibah anak yang rajin beramal serta belajar.

Setamat SMA Habibah mengatakan keinginannya untuk kuliah kepada Ibu dan 2 kakaknya.
"Jangan kuatir, Bu. Bibah tidak akan menyusahkan Ibu. Bibah akan merubah cita - cita masa kecil Bibah untuk menjadi dokter karena Bibah sadar dengan keadaan keluarga kita. Menolong orang khan tidak mesti jadi dokter. Bibah mau kuliah di keguruan saja. Jadi guru rasanya juga banyak pahalanya, Bu. Karena bisa membuat orang jadi pintar dan dengan kepintarannya itu dia bisa bertahan hidup."

Ibunya lega mendengar penuturan Habibah. Sebetulnya dia juga telah menyadari minat anak bungsunya sejak kecil, namun dengan keadaan mereka rasanya tidak mungkin untuk Bibah masuk kedokteran. Dan ibunya sangat bersyukur karena Habibah bisa mengerti. ******

Kini sudah tujuh tahun Habibah mengabdikan diri sebagai seorang pendidik. Dia selalu menyebut dirinya pendidik, bukan guru. Baginya mendidik bukan hanya membagikan ilmu kepada peserta didik tapi juga menanamkan nilai- nilai kehidupan. Habibah sangat menikmati profesinya. Habibah yakin inilah jalan yang ditunjukkan oleh Allah baginya dalam beramar ma'ruf nahi mungkar.

Di lingkungan kerjanya dia dikenal sebagai guru yang disiplin dan tegas namun juga sangat perhatian kepada anak didiknya. Tak jarang dia meluangkan waktunya untuk memberi pelajaran tambahan. Di sela- sela pemberian materinya Habibah juga sering menyelipkan ayat- ayat atau hadist yang sekiranya relevan dengan materi yang dia bawakan.

Namun rupanya ketenangan dan kebahagiaan Habibah dalam menjalankan profesinya tidak berlangsung lama. Dia terancam akan dipecat dari yayasan tempatnya selama ini mengabdikan ilmunya karena dia menjadi penyebabnya tinggal kelasnya dua orang anak pejabat.
" Saya hanya memberikan apa yang pantas mereka dapatkan, Pak. Selama ini saya sering memberikan nilai sembilan bahkan lebih pada anak yang memang berhak untuk itu. Jadi mohon maaf, Pak. Saya tidak bisa merubah keputusana saya." Tegas Habibah di hadapan kepala Sekolah dan Ketua Yayasan saat dia diminta merobah nilai dua orang anak pejabat tresebut.
"Apakamu tahu resikonya?" Ketua yayasan yang terkenal suka cari- cari muka kepada pejabat bertanya sinis.
"Insya Allah saya tahu dan saya siap. bagi saya adalah sangat tidak adil apabila saya memberikan nilai yang bagus sementara mereka hanya datang saat ujian semester. Itu artinya saya menzalimi anak- anak yang lain." Habibah tetap teguh padda pendiriannya.
" Apa kamu sudah pikirkan baik- baik bagaimana kelanjutan kariermu nanti?" Kali ini kepala sekolah yang terkenal selalu memakssakan kehendak angkat suara.
"Rezeki, jodoh dan ajal semuanya Allah yang mengatur, Pak. sekali lagi saya tegaskan bahwa saya siap menghadapi resiko apapun."

Dan saat itu juga Habibah meninggalkan sekolah. Dia amengemasi barang- barangnya. Ada kesedihan yang bermain di relung hatinya. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan bercat biru yang sudah ditempatinya selama ini. Namun dia berusaha tegar. Ini adalah keputusan terbaik baginya. Insya allah di luar sana masih ada rencana Allah untuknnya yang pasti lebih baik.

Saat berpamitan dengan rekan- rekannya, tak satupun dari mereka yang tidak menangis. Semua merasa sangat berat untuk melepaskan Habibah. Semenatar di luar ruangan anak- anak berteriak histeris. Mereka tidak rela guru yang selama ini paling mereka sayangi diperlakukan dengan tidak adil.

Dan kejadian yang tak terduga tiba- tiba terjadi. entha bagaimana awalnya, ruang kepala sekolah tiba- tiba terbakar. Habibah dan sewmua guru yang lain serta anak- anak segera berlari mendekati ruangan yang terbakar tersebut. Terdengar suara lirih kepala Sekolah meminta tolong. Entah kekuatan dari mana yang menyebabkan Habibah tiba- tiba saja melompat ke dalam kobaran api yang semakin membesar. Teriakan rekan- rekan dan siswanya tidak dihiraukan. Sedetik, dua detik... hingga beberapa menit berlalu Habibah tak kunjung keluar, juga tak terdengar teriak kesakitand ari dalam kobaran api. sampai kemudian setelah petugas pemadam kebakaran datang dan berhasil memadamkan api, nampaklah dua tubuh manusia yang sudah hangus terpanggang. semau berteriak histeris. Dua tubuh hangus itu adalah Kepala Sekolah dan Habibah. Ya, Habibah telah tewas dalam usahanya untuk menyelamatkan Kepala Sekolah.


(dimuat di harian RADAR SULBAR pada tanggal 8 Desember 2007)

Ketika Tuhan Berkata Cukup


Ketika tuhan berkata cukup disinilah berhentilah nafas seorang anak, selesai sudah pengembaraan dimuka bumi ini, dan pada saat itu berubalah status seorang manusia menjadi Jenazah yang terbujur kaku. Sang pengumpul datapun mendatanginya untuk menagih catatan hariannya.

Berhentinya Nafas  yang biasa juga kita sebut dengan Mati bisa saja datang secara tiba-tiba, baik dalam susana gembira, maupun sedih. Mati seakan tak peduli dengan umur seseorang, bahkan diusia remaja apabila sang pencabut nyawa berkehendak untuk menghentikan nafas seorang remaja, maka tertutuplah buku harian hidupnya.

Banyak orang bertanya tanya, bagaimana agar kita mati dalam keadaan yang baik, keadaan yang khusnu khatimah?  Berbagai pendapatpun muncul, ada yang mengatakan membantu orang-orang yang tidak mampu, menghormati orang tua, rajin Ibadah, memperbanyak amal, dan meninggalkan maksiat.

Apabila rasa dan perasaan seseorang sangat dekat kepada Tuhannya, tuhan bersabda "AKU lebih dekat dari urat nadi yang ada dileher mu", maka akan timbul perasaan tenang damai karena Tuhan juga mengatakan hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenang. Artinya bila kita sedikit sekali mengingat Allah maka hati akan menjadi kacau balau.

Kebiasaan seseorang mengingat Allah setiap waktu akan mempengaruhi cara dia menghadapi sakratul maut kalau dia banyak ingat Allah sepanjang hidupnya insyallah waktu kematian menjemput dari hati berdetak menyebut Sang Pencipta dan dari mulutnya keluar kalimat Tahlil, Tasbih dan Takbir diiringi senyuman karena merasa bahagia akan menjumpai ZAT yang dicintainya yang selama sangat ingin dijumpainya, maka meninggalah dia dengan chusnul khotimah.

to be continue>> :D